Suatu malam saya lagi di angkot untuk pulang ke rumah, cukup larut. Saya melihat ke luar jendela dan coba terka apa yang saya lihat? Seorang kakek sedang berjalan menenteng papan dengan tulisan yang kurang lebih berbunyi (saya lupa apa kata-kata persisnya) "terima jasa pijat" . Hati saya sakit.
Saya jadi berpikir, saya memang bukan si serba ada. Ga ada mobil untuk berangkat dan pulang kuliah, ga punya ber-rak-rak sepatu, berlemari-lemari baju, gadget-gadget terbaru, liburan ke luar negeri, atau uang di atm yang digit nolnya ada banyak dan bisa anda ambil kapanpun anda ingin. Saya tidak bisa memiliki itu, sedangkan orang tua saya lagi menabung untuk berangkat haji dalam beberapa tahun ke depan (hahanjirlah malah curhat).
Tapi saya juga sadar, saya bukan anak orang miskin yang bahkan harus berpikir mau melanjutkan kuliah atau kerja bantu orang tua dan menghidupi keluarganya. Saya tidak perlu mikir, karena saya akan kuliah walaupun harus menggunakan kendaraan umum yang agak brengsek setiap harinya. Saya masih bisa kuliah dan dapet uang jajan yang cukup. Alhamdulillah.
Intinya sih sebenernya, saya mengapresiasi mereka yang masih bertahan hidup dan mencari rezeki dengan cara halal dan tidak manja, tidak hanya menengadahkan tangannya dan meminta-minta dengan paksa. Saya menghargai kakek itu, yang menjual jasanya untuk tetap bertahan. Ya, jasa pijat.
Jadi, bisa nggak anda berhenti ngeluh dan banyak nuntut?



0 komentar:
Poskan Komentar
Poskan Komentar