here I am, Jamalia

who you are and who do you think you are

Saya berada di tengah modernisasi, sebuah proses hasil karya revolusi industri. Saya berada ketika teknologi bertubi-tubi datang untuk mempermudah kehidupan manusia. Tenaga manusia telah digantikan dengan mesin-mesin efisien, dan mereka yang tergantikan itu menjadi kelimpungan dan ketar ketir menjalani kehidupan. Saya berada pada situasi ketika ketergantungan antar manusia terjadi karena adanya spesialisasi kerja, kita menjadi butuh satu sama lain demi kepentingan  ekonomi. 

Saya berada di tengah kapitalisme, ketika uang dipertuhankan dan mereka yang tak mampu hanya akan menjadi pecundang dan tersingkir dengan kejam. Ketika bahkan Karl Marx  pun tidak bisa memberikan solusi. Masyarakat tanpa kelas dan revolusi proletarnya tidak pernah terwujud. Komunisme runtuh, tak mampu menerjang ombak deras kapitalisme. Mereka sang pemilik modal akan terus berkuasa menindas si miskin yang papa. Ah, ngomong apa sih?

Saya berada di tengah globalisasi, perubahan kebudayaan yang menciptakan situasi yang borderless, dunia semakin menyempit. Betapa mudahnya untuk berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan waktu yang cepat.  Selain itu banyak terjadi peningkatan di bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan.  Apa yang tak bisa dilakukan?  Ya ya ya. 

Ya ampun, ini mengkhawatirkan. Keadaan ini membuat persaingan semakin meningkat. Diperlukan perbekalan yang cukup atau saya hanya menjadi pecundang. Saya bisa apa? Duhai Max Weber, Emile Durkheim, Tonnies, dan Macionis, setumpuk bahan bacaan yang berasal darimu menyita waktu berpikir saya, seorang mahasiswi yang baru dilanda UAS.

Lalu saya hanya bisa bengong, memikirkan nasib saya ke depannya yang ntah akan menjadi seperti apa.