here I am, Jamalia

who you are and who do you think you are


Buat kalian yang bepergian dengan menggunakan mobil, pasti udah muak dengan yang namanya sepeda motor. Sepeda motor yang suka seenaknya nyalip, ngebut, dan gak mau di salahin padahal udah jelas-jelas mereka yang salah. Kampret kan? emang. Saya juga suka gak ngerti kenapa mereke sengeselin itu. Iyee, gak semua pengendara motor kayak gitu sebenernya, masih banyak yang bisa mematuhi rambu lalu lintas dan berkendara dengan baik. 

Buat kalian yang mengusulkan untuk meniadakan sepeda motor ataupun apapun untuk membuat orang sulit untuk memiliki sepeda motor, saya mohon jangan seegois itu. Saya tau motor tuh biang macet karena suka seenaknya, tapi mobil anda juga kan?

Sepeda motor tuh kendaraan yang bisa dibeli dengan cukup gampang oleh kalangan menengah dan menengah ke bawah karena mereka tidak bisa semudah itu untuk mendapatkan mobil nyaman kayak yang anda punya. Sepeda motor adalah salah satu bukti bahwa keadaan transportasi umum tidak nyaman dan tidak bisa sebegitunya diharapkan sehingga sepeda motor lah yang menjadi pilihan. Kalau  anda tidak mau naik transportasi umum, khususnya di Jakarta, anda bisa naik mobil. Lah bagi yang tidak punya bagaimana? Nggak, saya tidak menyalahkan anda yang bermobil, saya juga suka nebeng temen yang bermobil kok hihi :p

Bagi saya, yang harus disalahkan adalah amburadulnya transportasi umum sehingga orang mencari cara lain untuk sampai ke tempat tujuan dengan cara yang lebih cepat, mudah dan murah, yaitu naik sepeda motor.

ps: woi motor! gue tau lo bisa berjalan dengan lincah, tapi tolong ya, kalo ada orang yang mau nyebrang, kasih kesempatan dong! ga usah sok jadi satu-satunya  yang harus sampai dengan cepat di tujuan. gue juga harus cepet sampai tujuan, dan gue pejalan kaki! (ini karena lebih banyak motor yang nyolot dibandingkan dengan mobil)

Suatu malam saya lagi di angkot untuk pulang ke rumah, cukup larut. Saya melihat ke luar jendela dan coba terka apa yang saya lihat? Seorang kakek sedang berjalan menenteng papan dengan tulisan yang kurang lebih berbunyi (saya  lupa apa kata-kata persisnya) "terima jasa pijat" . Hati saya sakit. 

Saya jadi berpikir, saya memang bukan si serba ada. Ga ada mobil  untuk berangkat dan pulang kuliah, ga punya ber-rak-rak sepatu, berlemari-lemari baju, gadget-gadget terbaru, liburan ke luar negeri, atau uang di atm yang digit nolnya ada banyak dan bisa anda ambil kapanpun anda ingin. Saya tidak bisa memiliki itu, sedangkan orang tua saya lagi menabung untuk berangkat haji dalam beberapa tahun ke depan (hahanjirlah malah curhat).

Tapi saya juga sadar, saya bukan anak orang miskin yang bahkan harus berpikir mau melanjutkan kuliah atau kerja bantu orang tua dan menghidupi keluarganya. Saya tidak  perlu mikir, karena saya akan kuliah walaupun harus menggunakan kendaraan umum yang agak brengsek setiap harinya. Saya  masih bisa kuliah dan dapet uang jajan yang cukup. Alhamdulillah.

Intinya sih sebenernya, saya mengapresiasi mereka yang masih bertahan hidup dan mencari rezeki dengan cara halal dan tidak manja, tidak hanya menengadahkan tangannya dan meminta-minta dengan paksa. Saya menghargai kakek itu, yang menjual jasanya untuk tetap bertahan. Ya, jasa pijat.

 Jadi, bisa nggak anda berhenti ngeluh dan banyak nuntut?

jadi saya cuma mau nostalgia, berhubung anak SMA 2011 hari ini pengumuman kelulusan UN.

hanya mengingat-ngingat waktu jaman buka puasa pas kelas 3 SMA bareng temen-temen SMP.
ngobrolin mau kuliah di mana, and bla bla bla..
tibalah giliran saya berbicara, lalu sambil tangan maju ke depan gaya superman dengan agak sedikit teriak saya berbicara:

 FISIP UI I'M COMING!

dan sekarang saya di FISIP UI. 
jadi, lakukanlah apa yang anda percaya. demikian.

a year ago, I was struggling, we were struggling
a pile of exam papers
for the national exam, for the college entrance tests
and the non stop prayer we did
everyday, every dhuha


and I got this yellow jacket finally
with my broken arm


enjoy your days 12th graders
trust me, you will remember those sweet touching moments
 HAMASAH!

Makin lama saya semakin gampang untuk "suudzhan", bawaannya ga percayaan. Jika ada suatu kejadian atau fenomena, khususnya suatu kejadian sosial, maka saya akan berkata:
"masa sih, ah masa?"
"pasti ada udang di balik bakwan  batu tuh"
"ah bisa aje tu orang,masa jadi berubah tiba-tiba gitu. maksudnya apa ya?"
atau langsung secara frontal bilang
"gue gak percaya"

oke hal tersebut tidak harus di lafalkan secara lisan, lebih sering dipertanyakan dalam hati. 
ya, intinya saya menjadi orang yang cenderung  akan mencari tau apakah hal-hal yang dicelotehkan dan dilakukan oleh orang-orang tertentu dilakukan dengan niat yang baik. Ntahlah, mungkin ini efek jadi mahasiswi fisip, jadi mahasiswi ilmu politik.  Melihat bahwa begitu banyak manusia oportunis bertebaran, khususnya yang punya kepentingan politik dan kepentingan-kepentingan lainnya. Bawaannya ga gampang percaya.

Dan gawatnya itu berefek pada kejadian sehari-hari, hal-hal simpel.

ya ampun, saya hanya ingin orang-orang bisa berbagi kebahagiaan, jangan malah berbagi kecurigaan.  kecurigaan itu kan tidak membuat orang-orang bahagia.

oh adakah orang bertindak dengan tulus? dengan tidak mengharapkan imbalan? dengan tidak bertujuan pada maksud terselubung?

kalo jawabannya ada, hal apa yang membuat saya harus percaya bahwa hal itu memang ada?

#nahlooooooo 

ada kok jem, ada kok orang baik. tapi susah ya nemunya.

iya kali yaaaaaa
au ah.

"Aku lihat diriku berubah di depan mikrofon

Di depan banyak orang aku jadi domba kampung
yang memperindah-indah bahasa
atau monyet genit yang lebar hidungnya
tapi yang paling sial adalah
ketika aku terjemahkan diriku
jadi babi yang lupa diri"

-Taufiq Ismail
dari buku : Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

I: kamu lebih sering cengcengin orang apa yang dicengcengin?
J: hmm dua2nya pernah, tapi lebih sering ngecengcengin orang kayaknya hehehe.
I: hoo keliatin sih dari mukanya

berhubung besok imlek, biasanya pas jaman sma gue dan temen-temen distorsi (ekskul fotografi) udah siap untuk pergi ke klenteng. biasanya udah stand by ngumpul di 34 sejak pagi. tahun ini nggak. kangen.

-Kingkong, Pelatih Fotografi gue-

anyway
GONG XI FAT CHOI


bahkan untuk menentukan arah kanan dan kiri
saya perlu untuk mikir terlebih dahulu,
ada yang lebih menyedihkan?

sekere-kerenya jadi mahasiswi, saya masih punya uang untuk makan siang dan ongkos untuk pulang.
masih bisa minta uang ke orang tua buat beli buku dan fotokopi.
masih ada sisa uang buat beli cendol dan cireng.
masih bisa nyisihin uang buat nonton di bioskop dan makan di foodcourt.
masih bisa beli baju baru pada saat-saat tertentu, masih bisa beli pulsa buat sms dan nelpon.
masih bisa beli tiket bus dan kereta buat jalan-jalan ke jogja.
masih ada rumah yang nyaman dengan kamar dan kasur untuk tidur meskipun punya orang tua.
masih ada tv, internet, radio, dan buku-buku untuk hiburan.

tapi pernah gak sih mikirin nasib yang lain? yang merantau ke tempat orang buat kuliah, yang mikir-mikir mau pulang ke kampung halaman bahkan ketika lebaran karena terbatasnya dana. Yang akhirnya memilih untuk tidak pulang bertahun-tahun demi bisa makan dan bertahan hidup. Yang akhirnya tinggal di masjid dan jadi marbot daripada harus bayar kost-an.

saya malu, karena  masih aja bisa dengan sangat gampang menghamburkan uang orang tua. hidup saya termasuk lebih beruntung dibandingkan dengan yang lain.
kayaknya saya kejam banget.
kalo anda gimana?